June 1, 2011

The Class is Over.


 Ini bukan tanggal jadian atau tanggal putus gue. Tapi ini adalah tanggal dimana mulai hari ini dan seterusnya, gue mungkin nggak akan sekelas lagi sama anak-anak IPA 2. Sedih memang, tapi mau bagaimana lagi. Rasanya baru kemaren gue masuk kelas IPA 2, asal duduk, ngobrol basa-basi sok kenal, sok akrab.
Sekedar flashback, dulu gue duduknya sebangku sama Winda. Dan kalo ada yang manggil "Winda!", maka yang terjadi adalah; kemungkinan pertama: dua-duanya nengok, kemungkinan kedua: nggak ada yang nengok, kemungkinan ketiga: yang nengok bukan Winda yang dimaksud. Sampe kita (gue, winda temen gue, dan anak-anak kelas) capek karena selalu salah paham, akhirnya mereka bikin panggilan yang bisa membedakan yang mana gue, yang mana Winda temen gue. Jadi gini, gue sama Winda itu berbeda 180. Gue kurus, sedangkan dia gendut. Maka jadilah gue dipanggil Wirus alias Winda kurus, dan dia dipanggil Windut alias Winda gendut. Mulai sejak itu, kita nggak pernah salah nengok lagi. Hahaha.
Mega, Windut, Gue

Oh iya, gue juga masih inget, dulu waktu awal-awal masuk tiap jam istirahat, nggak pernah ada orang di kelas. Semua pada mencar, nyari temen-temen kelasnya di kelas 10. Gue bingung mau kemana, ngobrol sama siapa, hingga akhirnya gue memutuskan untuk menumpang makan bekal di kelas temen gue. Tapi nggak berapa lama akhirnya udah pada bisa akrab dan udah mulai akrab ngobrol dan nggak pada mencar lagi kalo jam istirahat.
Kita juga pernah rame-rame touring ke Ketep. Sebenernya nggak rame-rame amat sih, tapi lumayanlah ada 8 orang yang berangkat. Kita ke Ketep dengan 4 motor, saling boncengan. Berangkatnya gue-Dora, Rossi-Dhika,  Yogi-Hendri, Aam-Bibot. Perjalanan sekitar 2 jam (kalo nggak salah). Sampe di Ketep kita cuma makan mie instan, habis itu pulang. Tapi karena Dora kecapekan, akhirnya gue boncengan sama Hendri dan Dora boncengan sama Yogi. Eh, dijalan Yogi sama Dora semacam kecelakaan gitu deh. Mereka nabrak lampu merah. Ngakak banget deh kalo inget.
 Bibot, gue, Aam, Dhika, Rossi, Hendri, Yogi

Dora, gue, Aam, Dhika, Rossi, Hendri, Yogi
Gue juga inget jaman pesantren itu, kita bukannya tidur malah main UNO dikamar, trs yang kalah mukanya dicontreng pake bedak. Dan setelah pesantren itu, main UNO udah kayak ritual wajib. Kalo nggak main rasanya kayak ada yang kurang. nggak berapa lama UNOnya udah kecer-kecer. Dan akhirnya kita mengganti permainan UNO dengan 'nyaknyong'. Sama-sama permainan kartu. --Sekarang gue udah lupa cara mainnya :( --. Terus kita juga main 41, tabok nyamuk, dkk. Gue mulai merasa bahwa kelasku adalah Las Vegas mini.
Kekalahan pertama gue, bedaknya tebel banget

Para loser UNO mukanya dicontreng bedak rame-rame
....

Sebenernya masih banyak banget cerita yang pengen gue sampein ke eloh semua, tapi apa mau dikata. Waktu selalu berjalan, dan gue butuh tiduuur, dan cerita sophomore-ku terlampau panjang :). This post will be soon edited. Maybe.


Sincerely,